Apanya yang Telanjang?
Di atas adalah pertanyaan standar yang terlontar manakala orang pertama kali membuka blog ku ini.
Sesungguhnya A Naked Truth.... adalah sebuah jurnal yang memuat segala aspirasiku tentang kehidupan (yang baik dan buruk).
Mungkin bisa berguna buat orang lain, mungkin pula tidak. Mungkin menarik untuk dibaca, mungkin pula tidak. Apapun itu dan bagaimanapun reaksi orang setelah membacanya, ini hanyalah kumpulan pemikiranku tentang berbagai hal.
Jurnal ini menjadi semacam katarsis dan katup pengaman dalam me-manage emosi dan uneg-uneg ku.
Mohon maaf atas segala kekurangannya. Juga atas judulnya yang sedikit mengundang (karena kata dan judul Naked tersebut..). Maaf, tidak seperti ekspektasi sebagian orang, Blog ini tidak memuat ketelanjangan (nudity) fisik tapi hanya ketelanjangan pikiran (mental) semata, maka itu diberi nama "A Naked Truth" (Sebuah Kebenaran yang Telanjang).....

What s naked?
Above is a typical question uttered when a new reader walk into my blog.
Matter of factly A Naked Truth.... is merely a personal journal comprises my aspirations and inspirations on life (The good and the ugly truth of it).
It may be useful or not for the readers. It may be attractive or dull to the audiences. For what that may be, no matter what people responses, this is only a collection of my thoughts on many things.
It simply a catarcist and safe valve in order to manage my emotions and psychological turmoils.
So sorry for the weakness and shorts, and so for the intriquing title. Not as many expected, there is no nudity or pornograhic images placed here but mentally stripped thoughts in jotting down posting. That's why I call it A Naked Truth.
Monday, June 16, 2008
Life is a matter of "trade-offs"
We win some, we loose some. We just can't have it all! Dalam hidup ini berlaku hukum "trade-offs" dimana utk memperoleh sesuatu kadang kita harus mengorbankan (baca: kehilangan hal lain). Dalam teori ekonomi ini berlandaskan pemikiran akan scarcity (kelangkaan), sedangkan dalam kehidupan praktisnya ini karena keterbatasan kita sebagai manusia. Beberapa waktu berselang aku mengenal seseorang yang aku rasa "spesial". Kukatakan spesial bukan semata-mata karena kami saling tertarik secara fisik tetapi juga spriritual (bukan soal keyakinan, karena toh Agama kami berbeda). Anyway hubungan jarak jauh itu terjalin beberapa bulan dan kami belum pernah berjumpa secara langsung. Hari-hari pun kami lewati dengan indah walau cuma berhubungan via telpon/sms/net tapi kami begitu yakin akan betapa indah dan excited-nya kami saat kelak bertemu langsung. Namun sayang sesuatu terjadi dan saatnya sangat dekat dengan saat kami berjanji akan bertemu. Aku mengalami kekacauan dalam karir dan keuanganku karenanya aku menarik diri dan menghindar untuk bertemu dengannya. Aku mencoba utk menjelaskan hal ini kepadanya dan seperti yang telah aku duga sebelumnya dia hanya mengatakan bahwa dia mengerti tapi dia kecewa karena sikapku. Dia mengatakan menerimaku apa adanya. Namun aku merasa minder dan kehilangan rasa percaya diriku. Aku beranggapan lebih baik aku menghindar agar dia tidak lebih kecewa setelah bertemu dan menjalin hubungan denganku. Bagiku dia terlalu baik untuk disakiti. Jadi biarlah aku menjauh dan memusatkan diri utk menyelesaikan segala masalah yang tengah aku hadapi. Singkatnya aku meminta waktu kepadanya (namun aku tak tahu kapan aku siap menemuinya...aku sudah siap bila dia tidak lagi menyukaiku. Aku sudah siap dengan segala resikonya). Di satu sisi aku merasa telah menjadi fihak yang merusak hubungan baik yang selama ini telah kami bina. Di lain sisi aku juga merasa tidak sepadan lagi dengannya. Aku khawatir keadaanku saat ini (walaupun dia dapat memaklumi keadaanku) hanya akan merusak apa yang ada sebelumnya. Sederhananya aku masih menyayanginya tapi juga aku belum sanggup bertemu dengannya. Aku yakin dia merasa sangat kecewa dengan sikapku ini dan aku tidak menyalahkan dia atas kekecewaan itu. Aku terpaksa. Aku tidak bisa menjalin hubungan dengannya pada saat beban permasalahan ku demikian berat saat ini. Aku harus selesaikan semua dahulu. dan mungkin (aku tetap berpikir positip) dia masih dapat bersabar untuk ku. Namun bila tidak akupun telah siap menghadapi perpisahan. God save & help me.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
























0 comments:
Post a Comment