Apanya yang Telanjang?


Di atas adalah pertanyaan standar yang terlontar manakala orang pertama kali membuka blog ku ini.

Sesungguhnya A
Naked Truth.... adalah sebuah jurnal yang memuat segala aspirasiku tentang kehidupan (yang baik dan buruk).

Mungkin bisa berguna buat orang lain, mungkin pula tidak. Mungkin menarik untuk dibaca, mungkin pula tidak. Apapun itu dan bagaimanapun reaksi orang setelah membacanya, ini hanyalah kumpulan pemikiranku tentang berbagai hal.

Jurnal ini menjadi semacam katarsis dan katup pengaman dalam me-manage emosi dan uneg-uneg ku.

Mohon maaf atas segala kekurangannya. Juga atas judulnya yang sedikit mengundang (karena kata dan judul Naked tersebut..). Maaf, tidak seperti ekspektasi sebagian orang, Blog ini tidak memuat ketelanjangan (nudity) fisik tapi hanya ketelanjangan pikiran (mental) semata, maka itu diberi nama "A Naked Truth" (Sebuah Kebenaran yang Telanjang).....



What s naked?

A
bove is a typical question uttered when a new reader walk into my blog.

Matter of factly A Naked Truth.... is merely a personal journal comprises my aspirations and inspirations on life (The good and the ugly truth of it).

It may be useful or not for the readers. It may be attractive or dull to the audiences. For what that may be, no matter what people responses, this is only a collection of my thoughts on many things.

It simply a catarcist and safe valve in order to manage my emotions and psychological turmoils.

So sorry for the weakness and shorts, and so for the intriquing title. Not as many expected, there is no nudity or pornograhic images placed here but mentally stripped thoughts in jotting down posting. That's why I call it A Naked Truth.


In Flesh and blood :

Read Also My Other Naked Truth :

Sunday, August 24, 2008

Pace of Life


Fasting is a week away but the echoe has started even sooner. For me, it is hard to believe that it has been another year passing, with a long notes. In several instances life can be so vicious but still as friendly as it get on other ocassions. Well, that's what life is all about.

In our deepest failure we might feel desperate and hopeless, yet in our most happiest times we feel that we're on top of the world. So, what's the point of all moments we have in life? Is it about always on top? Or being misserable in the bottom of our hell? Or what? One writter who wrote "The Power of Now" suggested that we should be able to appreciate whatever happens in our precious life : the good and the bad!

My contemplation for the moment, I might have ignored the fact that I should appreciate life, not only for the good times I have but the bad one as well.

-----------------------------
Puasa masih semingguan lagi tapi gemanya sudah terasa bahkan lebih dini. Bagiku sukar dipercaya kalau satu tahun telah berlalu dengan sebuah catatan yang panjang. Dalam beberapa keadaan kehidupan terasa kejam sedangkan pada situasi lain terasa demikian ramahnya. Ya, begitulah kehidupan.

Dalam kedukaan kita yang paling dalam mungkin kita berputus asa dan frustrasi. Sebaliknya dalam kesukaan dan kesenangan kita seolah merasa berada di puncak dunia! Lantas, apa arti semua kejadian itu bagi kita? Pertanyaan filosofisnya, apakah kita harus elalu berada di puncak? Atau bergelut dalam derita di dasar neraka kehidupan kita? Ataukah apa? Sebuah buku bertajuk "The POwer of Now" menyarankan bahwa untuk menjadi pribadi yang paripurna kita harus mampu meng-apresiasi kehidupan apa adanya: hal baik dan juga hal buruknya!

Perenanganku pada saat ini, Mungkin aku lebih banyak mengabaikan fakta bahwa aku harus bisa menysukuri apa yang aku dapatkan selama ini : hal baik dan juga hal buruknya!

0 comments:

What I Think of these Movies :