
"Saya tak suka dan tidak pernah rela bila ditolak". Kalimat itu adalah reaksi umum orang atas sikap penolakan (rejections) orang lain terhadap seseorang. Tapi sadarkah kita bahwa hal itu pula yang dirasakan oang saat kita menolak mereka?
Lantas bagaimana semestinya kita bersikap atas sebuah penolakan? Apakah kita harus tengelam dala kekecewaan dan kemarahan? Tentunya tidak. Kita harus menyalurkan kekecewaaan tadi ke arah yang benar. Lebih penting daripada itu kita harus bisa menetralisir diri kita dari dampak negatip dari suatu penolakan. Sebuah penolakan, sederhananya, adalah hukum alam. Seseorang bisa saling tertarik (mutual atttractions) manakala ada "chemistry" (ketertarikan) yang terpancar dari keduanya (atau salah satu orang) pada saat mereka berinteraksi. Ini biasanya diperoleh seseorang dalam proses belajar yang panjang. Artinya ada pengaruh latar belakang pengasuhan, keluarga, pengalaman, nilai-nilai dan lain-lain. Maka manakala dua orang bertemu akan terjadi interaksi yang akan mengarah ketertarikan searah atau dua arah tergantung muatan keduanya. Bila memang tidak ada bahannya maka ketertarikan itu tidak akan timbul.
Jadi tak ada dasar bagi kita untuk marah karena ketertarikan itu tidak bisa muncul, karena memang tak ada bahan yang bisa menimbulkan ketertarikan dari kedua individu yang bersangkutan. Memaksakan hal itu terjadi sama juga dengan pemerkosaan atau pelanggaran hak asasi. Jadi sejatinya kita harus mensikapi penolakan sebagai sesuatuhal yang lumrah dalam hidup. Kadang kita menolak orang lain karena kita tidak tertarik atau sebaliknya kita ditolak orang lain karena tidak menarik. Sederhana saja bukan? Tak perlu dibesar-besarkan.

























0 comments:
Post a Comment