Apanya yang Telanjang?


Di atas adalah pertanyaan standar yang terlontar manakala orang pertama kali membuka blog ku ini.

Sesungguhnya A
Naked Truth.... adalah sebuah jurnal yang memuat segala aspirasiku tentang kehidupan (yang baik dan buruk).

Mungkin bisa berguna buat orang lain, mungkin pula tidak. Mungkin menarik untuk dibaca, mungkin pula tidak. Apapun itu dan bagaimanapun reaksi orang setelah membacanya, ini hanyalah kumpulan pemikiranku tentang berbagai hal.

Jurnal ini menjadi semacam katarsis dan katup pengaman dalam me-manage emosi dan uneg-uneg ku.

Mohon maaf atas segala kekurangannya. Juga atas judulnya yang sedikit mengundang (karena kata dan judul Naked tersebut..). Maaf, tidak seperti ekspektasi sebagian orang, Blog ini tidak memuat ketelanjangan (nudity) fisik tapi hanya ketelanjangan pikiran (mental) semata, maka itu diberi nama "A Naked Truth" (Sebuah Kebenaran yang Telanjang).....



What s naked?

A
bove is a typical question uttered when a new reader walk into my blog.

Matter of factly A Naked Truth.... is merely a personal journal comprises my aspirations and inspirations on life (The good and the ugly truth of it).

It may be useful or not for the readers. It may be attractive or dull to the audiences. For what that may be, no matter what people responses, this is only a collection of my thoughts on many things.

It simply a catarcist and safe valve in order to manage my emotions and psychological turmoils.

So sorry for the weakness and shorts, and so for the intriquing title. Not as many expected, there is no nudity or pornograhic images placed here but mentally stripped thoughts in jotting down posting. That's why I call it A Naked Truth.


In Flesh and blood :

Read Also My Other Naked Truth :

Saturday, June 6, 2009

Bagaimana Menghadapi Penolakan


"Saya tak suka dan tidak pernah rela bila ditolak". Kalimat itu adalah reaksi umum orang atas sikap penolakan (rejections) orang lain terhadap seseorang. Tapi sadarkah kita bahwa hal itu pula yang dirasakan oang saat kita menolak mereka?

Lantas bagaimana semestinya kita bersikap atas sebuah penolakan? Apakah kita harus tengelam dala kekecewaan dan kemarahan? Tentunya tidak. Kita harus menyalurkan kekecewaaan tadi ke arah yang benar. Lebih penting daripada itu kita harus bisa menetralisir diri kita dari dampak negatip dari suatu penolakan. Sebuah penolakan, sederhananya, adalah hukum alam. Seseorang bisa saling tertarik (mutual atttractions) manakala ada "chemistry" (ketertarikan) yang terpancar dari keduanya (atau salah satu orang) pada saat mereka berinteraksi. Ini biasanya diperoleh seseorang dalam proses belajar yang panjang. Artinya ada pengaruh latar belakang pengasuhan, keluarga, pengalaman, nilai-nilai dan lain-lain. Maka manakala dua orang bertemu akan terjadi interaksi yang akan mengarah ketertarikan searah atau dua arah tergantung muatan keduanya. Bila memang tidak ada bahannya maka ketertarikan itu tidak akan timbul.

Jadi tak ada dasar bagi kita untuk marah karena ketertarikan itu tidak bisa muncul, karena memang tak ada bahan yang bisa menimbulkan ketertarikan dari kedua individu yang bersangkutan. Memaksakan hal itu terjadi sama juga dengan pemerkosaan atau pelanggaran hak asasi. Jadi sejatinya kita harus mensikapi penolakan sebagai sesuatuhal yang lumrah dalam hidup. Kadang kita menolak orang lain karena kita tidak tertarik atau sebaliknya kita ditolak orang lain karena tidak menarik. Sederhana saja bukan? Tak perlu dibesar-besarkan.

0 comments:

What I Think of these Movies :