
- Most people enjoy the inferiority of their best friends
. Philip Stanhope
Di dalam pertunjukkan seperti teater, ludruk, srimulat atau pelbagai acara di televisi (TV shows) umumnya sudah lazim dan menjadi semacam pakem bahwa untuk memeriahkan acara tersebut perlu ada "tumbal" alias karakter atau tokoh yang menjadi bahan olok-olok, dengan alasan : agar pertunjukkannya lebih menghibur dan meriah! Biasanya sang karakter tadi adalah seseorang yang lemah, bodoh, cacat, miskin dan sebagainya. Pokoknya seseorang yang memiliki kekurangan atau ketidakberuntungan dan Itulah salah satu dasar mengapa dan bagaimana membuat pertunjukkan lawak atau komedi!
Celakanya, kebiasaan ini tidak hanya berhenti di panggung atau layar kaca semata tetepi juga berlanjut di kehidupan nyata. Dalam pergaulan sehari-hari memang tidak aneh lagi bila kita menemukan satu atau dua orang yang menjadi bulan-bulanan bahan lelucon, tertawaan atau olok-olok. Dalam kehidupan sehari-hari bila kita amati dengan teliti, mencari bahan olok-olok seperti itu bukanlah hal yang sulit. Hampir dalam setiap percakapan dan pergaulan sosial orang senang melihat dan mentertawakan kekurangan (inferiority) orang lain.Bila anda ditanya mengapa mentertawakan mereka itu biasanya alasannya sederhana saja: sekedar bahan hiburan!
Bahkan secara tidak sadar kita mungkin diasuh dan dibesarkan di budaya yang membiarkan tata cara meperolok sesama. Contoh kecil tidak jarang di sekeliling kita ada orang tua yang secara tidak sadar mengajarkan anaknya untuk mentertawakan kecacatan seseorang, orang yang tidak waras/gila,kemiskinan seseorang dan semacamnya. Apabila seorang anak kecil melakukan kesalahan di kelas pun biasanya sang guru menghukum dia dengan hukuman yang sifatnya tidak sekedar untuk membuat kapok yang lain tapi juga terkadang menjadikan dia bahan olok-olok teman yang lain. Dalam pergaulan si kecil ini agar merasa nyaman dan terlindungi seringkali dia "terpaksa" ikut mengejek dan memperolok di korban agar merasa aman karena berada dalam kelompok mayoritas.
Dengan bertambah dewasanya si anak, skala dan level bulying nya pun meningkat. Bila semasa kecil mereka diajarkan untuk mengolok-olok kepincangan seseorang atau bututnya sepatu temanya, maka di kala remaja akan lebih serius. Olok-olok tadi bisa berkembang kepada perang antar gank, tawuran hingga krimininalitas serius lain.
Beberapa peneliti mengatakan bahwa tindakan menyiksa sesama ini semata-mata merupakan kompensasi diri untuk merasa aman. Artinya di mata dan perasaan si penyiksa (abuser) tindakannya dia anggap benar karena dia dapat merasakan kenyamanan dengan melakukannya kepada orang lain. Hal ini terjadi karena biasanya mereka sendiri tidak nyaman dengan dirinya sendiri entah karena pengalaman di masa lalu (pernah di-abuse/disiksa secara verbal ataupun fisik) ataupun demi status quo nya dalam pergaulan (supaya aman dalam kelompoknya dia terpaksa ikut menyiksa orang lain)!
Meski biasanya kita menyangkal hal ini,Sadar ataupun tidak terkadang kita menikmati menyakiti orang sekeliling kita demi rasa aman atau kenyamanan kita!
Kita mungkin merasa penderitaan kita di masa lalu perlu dibayar dengan menyiksa orang lain! Nah, di sinilah letak kesalahannya!
Teranglah bahwa kebiadaban besar seperti genocide bermula dari hal kecil yang dipupuk sejak lama (sejak masa pertumbuhan kita) dan berkembang biak di banyak budaya, ras, suku, agama dan strata sosial. Pastinya ini adalah hal yang harus kita waspadai, cegah dan selamatkan dari sejak dini. Kita tidak boleh menrasa nyaman dengan mengorbankan kenyamanan orang lain! Tak patut kita menyakiti orang lain agar diri kita merasa nyaman. Itu adalah esensi dari kemanusiaan itu sendiri.

























0 comments:
Post a Comment